Terjemahan yang Berlaku English عربي

212- BAB KEUTAMAAN QIAMULAIL

Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isrā`: 79) Dia juga berfirman, "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya." (QS. As-Sajdah: 16) Dia juga berfirman, "Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam." (QS. Aż-Żāriyāt: 17)

Pelajaran dari Ayat:

1) Perhatian Allah -Ta'ālā- kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tatkala Allah memerintahkan beliau bertahajud supaya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendapatkan kemuliaan dan keutamaan tempat terpuji (al-maqām al-maḥmūd) pada hari Kiamat, yaitu kedudukan syafaat kubra bagi penghuni mahsyar untuk memulai hisab.

2) Menggambarkan keadaan kaum mukminin dalam mengerjakan qiamulail karena di dalamnya terkandung keagungan dan kemuliaan bagi mereka di dunia dan akhirat.

3) Siapa yang senang bertemu Allah -Ta'ālā- maka dia akan meninggalkan ketenangan badannya demi meraih ketenangan hatinya.

4) Motivasi untuk merasakan indahnya kedekatan kepada Allah -Ta'ālā- di waktu-waktu malam; "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya" karena rindu kepada Allah -Ta'ālā-.

1/1160- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa melakukan salat malam sampai kedua kakinya bengkak. Aku pun bertanya, "Wahai Rasulullah! Kenapa engkau lakukan sampai seperti ini, padahal telah diampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?" Beliau menjawab, "Tidak bolehkah aku senang bila menjadi hamba yang bersyukur?"

(Muttafaq 'Alaih) Juga terdapat hadis yang semakna dengannya dari Al-Mugīrah bin Syu'bah. (Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

تَتَفَطَّرَ (tatafaṭṭar): bengkak karena lama berdiri.

Pelajaran dari Hadis:

1) Pengagungan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terhadap hak Allah -Ta'ālā- atas beliau, yaitu beliau berjuang untuk melakukan salat malam yang panjang sebagai wujud syukur kepada Allah -Ta'ālā-.

2) Tanda kedalaman fikih seorang hamba adalah jika dia bersyukur kepada Allah -Ta'ālā- manakala Allah mengistimewakannya dengan karunia yang lebih atas orang lain.

3) Hakikat syukur adalah mengakui karunia Allah dengan hati, lisan, dan anggota badan dengan melakukan ketaatan kepada-Nya sebagai Maha Pemberi karunia.

2/1161- Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang mengetuk rumahnya dan juga Fatimah pada malam hari, beliau bersabda, "Tidakkah kalian berdua melaksanakan salat?" (Muttafaq 'Alaih) طَرَقَهُ (ṭaraqahu): ia datang menemuinya pada waktu malam.

3/1162- Sālim bin Abdillah bin Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari bapaknya bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia mengerjakan salat malam." Sālim berkata, "Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit." (Muttafaq 'Alaih)

4/1163- Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Wahai Abdullah! Janganlah engkau seperti si polan. Dia dahulu mengerjakan salat malam, tetapi setelah itu dia meninggalkannya." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan keutamaan salat malam serta anjuran agar seseorang menganjurkan keluarganya untuk melakukan salat malam.

2) Disunahkan memberi pujian kepada orang yang saleh jika hal itu akan memotivasinya untuk menambah ketaatan dan mengerjakan kebaikan.

3) Keutamaan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- dalam hal melaksanakan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beginilah seharusnya keadaan orang beriman, yaitu bersegera kepada perintah Allah -Ta'ālā- dan perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya terkandung semua kebaikan dan kesuksesan.

4) Peringatan agar tidak menyerupai orang-orang malas, serta anjuran untuk meniru orang yang memiliki obsesi tinggi dan bersemangat dalam ketaatan.

5/1164- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Disebutkan di hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang seorang lelaki yang tidur semalaman sampai waktu pagi. Beliau bersabda, "Laki-laki itu telah dikencingi setan di kedua telinganya -atau: di telinganya-." (Muttafaq 'Alaih)

6/1165- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Setan membuat tiga ikatan di ujung belakang kepala salah seorang kalian ketika dia tidur. Setiap ikatan ia pukul (dengan mengatakan), 'Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah!' Jika orang tersebut bangun lalu berzikir kepada Allah -Ta'ālā-, terlepaslah satu ikatan. Lalu jika dia berwudu, terlepaslah satu ikatan yang lain. Kemudian jika dia mengerjakan salat, terlepaslah seluruh ikatan itu. Maka dia memasuki waktu pagi dengan semangat dan jiwa yang baik. Tetapi jika tidak demikian, pasti dia memasuki waktu pagi dengan jiwa yang jelek dan malas." (Muttafaq 'Alaih)

قَافِيَةُ الرَأسِ (qāfiyah ar-ra`s): bagian ujung kepala.

Kosa Kata Asing:

يَعْقِدُ (ya'qidu), berasal dari kata "العَقْدُ" (al-'aqd), yaitu: mengikat sesuatu.

فَارْقُدْ (fa-rqud): perintah untuk tidur; tidurlah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Mengimani secara penuh berita dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sabda beliau, "Setan kencing," karena orang beriman akan membenarkan berita-berita gaib walaupun dia tidak mengetahui hakikatnya.

2) Qiamulail adalah benteng bagi hamba dari penguasaan setan atas dirinya.

3) Berzikir kepada Allah -Ta'ālā-, wudu, dan salat adalah sebab paling besar untuk selamat dari ikatan yang dibuat oleh setan, dan perkara ini mudah bagi orang yang diberikan taufik oleh Allah -Ta'ālā- untuk melakukannya.

4) Ketaatan dan ketekunan menyebabkan rasa tenang dan lapang dada, sedangkan maksiat dan kemalasan menyebabkan sempitnya dada dan keresahan.

7/1166- Abdullah bin Salām -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berilah makanan, dan salatlah pada malam hari ketika orang-orang tidur, niscaya kalian pasti masuk surga dengan selamat."

(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadis hasan sahih")

Kosa Kata Asing:

أفْشُوا السَّلامَ (afsyū as-salām): sebarkanlah salam; perintah untuk menebar salam di antara kaum muslimin, kepada orang yang Anda kenal dan yang tidak Anda kenal.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kasih sayang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada umatnya, yaitu beliau menunjukkan mereka amalan-amalan yang menjadi sebab masuk surga. Sebab itu, para penuntut surga harus gigih untuk mengimplementasikannya dengan mempelajari dan mengamalkannya.

2) Qiamulail merupakan kebiasaan orang-orang yang mendapat taufik di antara hamba Allah, yaitu mereka banyak melakukan qiamulail untuk berdoa kepada Rabb mereka dengan penuh rasa takut dan harap.

8/1167- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharam. Dan sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam." (HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Bulan Muharam adalah bulan paling mulia untuk mengerjakan ibadah puasa.

2) Salat sunah malam hari lebih utama dari salat sunah siang hari, karena pada malam hari waktu turunnya banyak rahmat dan pengabulan doa.

9/1168- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Salat malam itu dua rakaat dua rakaat. Apabila engkau takut subuh (tiba), maka berWitirlah dengan satu rakaat." (Muttafaq 'Alaih)

10/1169- Juga dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa salat malam dua rakaat dua rakaat dan berWitir dengan satu rakaat." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Petunjuk Nabi dalam salat malam adalah dikerjakan dua rakaat dua rakaat.

2) Apabila fajar sidik telah terbit, maka waktu Witir telah habis, dan jumlah minimal salat Witir adalah satu rakaat.

11/1170- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa berbuka (tidak berpuasa sunah) dalam satu bulan hingga kami mengira bahwa beliau tidak berpuasa sedikit pun selama bulan itu. Dan beliau juga biasa berpuasa (sunah) hingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah berbuka sama sekali dalam bulan itu. Tidaklah engkau ingin melihat beliau pada malam hari dalam keadaan salat, melainkan engkau akan melihatnya. Sebaliknya, tidaklah engkau ingin melihat beliau dalam keadaan tidur, melainkan engkau melihatnya juga." (HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yaitu beliau merutinkan amal saleh, karena amal saleh yang paling dicintai Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya walaupun sedikit.

2) Menjelaskan petunjuk Nabi yang bersikap pertengahan dalam ibadah, agar seorang hamba mengikuti metode ibadah yang paling afdal dan bertakwa untuk Rabb-nya sekaligus yang paling ringan dan mudah bagi badannya.

3) Memvariasikan ibadah dan tidak memberatkan diri adalah petunjuk yang paripurna dalam ibadah.

12/1171- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengerjakan salat sebanyak sebelas rakaat -yakni salat malam-, beliau melakukan satu sujudnya seukuran salah seorang kalian membaca lima puluh ayat sebelum beliau mengangkat kepala. Lalu beliau salat sunah dua rakaat sebelum Subuh kemudian berbaring di atas sisi kanan beliau hingga muazin datang untuk memberitahukan penegakan salat. (HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Jumlah rakaat qiamulail yang disunahkan ialah sebelas rakaat, baik di dalam Ramadan maupun di luar Ramadan.

2) Di antara petunjuk yang terpuji adalah memanjangkan sujud dengan zikir dan doa ketika qiamulail karena keadaan terdekat hamba kepada Rabb-nya adalah ketika dia sujud.

3) Menjelaskan sempurnanya kekhusyukan Rasulullah -'alaihiṣ-ṣalātu was-salām- terhadap Rabb-nya, yaitu beliau memanjangkan satu sujud seukuran membaca lima puluh ayat!

4) Di antara petunjuk Sunnah adalah agar imam masuk masjid kecuali pada waktu ikamah salat.

13/1172- Juga dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak pernah menambah di atas sebelas rakaat, di dalam Ramadan maupun di luar Ramadan. Yaitu beliau mengerjakan salat empat rakaat, maka jangan bertanya tentang indah dan panjangnya. Kemudian beliau mengerjakan lagi salat empat rakaat lagi, dan jangan bertanya tentang indah dan panjangnya. Kemudian beliau mengerjakan salat tiga rakaat. Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidur sebelum berWitir?' Beliau bersabda, Wahai Aisyah! Sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur.'" (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam qiamulail, yaitu beliau mengerjakan salat empat rakaat, setiap dua rakaat satu salam, kemudian beliau beristirahat sebentar setelah empat rakaat tersebut.

2) Menerangkan keistimewaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yaitu bahwa hatinya tidak lalai dari mengingat Allah -Ta'ālā- sekalipun kedua mata beliau tidur.

3) Memanjangkan salat malam disertai mengerjakannya dengan sempurna termasuk petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

14/1173- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa tidur di awal malam dan bangun di akhirnya, lalu melaksanakan salat." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Waktu yang paling afdal untuk qiamulail adalah di sepertiga akhir malam.

2) Memberikan hak badan untuk beristirahat di awal malam adalah petunjuk Nabi, dan ia merupakan amalan yang dimudahkan agar bersemangat dalam beribadah.

15/1174- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Suatu malam aku mengerjakan salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau terus berdiri lama sampai aku bermaksud untuk melakukan sesuatu yang buruk." Ibnu Mas'ūd ditanya, "Apa yang hendak engkau lakukan?" Ia menjawab, "Aku bermaksud untuk duduk dan meninggalkan beliau." (Muttafaq 'Alaih)

16/1175- Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita, "Suatu malam aku mengerjakan salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau memulai dengan membaca Al-Baqarah. Dalam hati aku bergumam, 'Mungkin beliau akan melakukan rukuk kalau sudah seratus ayat.' Ternyata beliau meneruskan bacaannya. Dalam hati aku bergumam, 'Mungkin beliau akan membaca Surah Al-Baqarah dalam satu rakaat.' Ternyata beliau meneruskan bacaannya. Dalam hati aku berkata, 'Beliau akan melakukan rukuk setelahnya.' Namun beliau melanjutkan Surah An-Nisā` dan beliau membacanya sampai selesai. Setelah itu beliau membaca Surah Āli 'Imrān dan beliau membacanya sampai selesai. Beliau membaca dengan bacaan perlahan (tartil). Jika melewati ayat yang mengandung tasbih, beliau pun bertasbih. Jika melewati ayat yang menyuruh memohon, beliau pun memohon. Jika melewati ayat yang menyuruh untuk memohon perlindungan, beliau pun memohon perlindungan. Setelah itu beliau melakukan rukuk dan membaca, 'Subḥāna Rabbiyal-'Aẓīm' (Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung). Lama rukuk beliau hampir sama dengan lama berdirinya. Lantas beliau mengucapkan, 'Sami'allāhu liman Ḥamidah. Rabbanā Lakal-Ḥamdu' (Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Wahai Tuhan kami! Hanya bagi-Mulah segala pujian). Selanjutnya beliau berdiri lama hampir sama lamanya dengan rukuk. Lalu beliau bersujud dan membaca, 'Subḥāna Rabbiyal-A'lā' (Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi). Lama sujud beliau hampir sama dengan lama berdirinya." (HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan kedudukan besar yang menjadi kekhususan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hal kesempurnaan ibadahnya kepada Allah -Ta'ālā- dan lamanya ibadah qiamulail beliau, karena semakin seseorang mengenal Allah maka dia akan semakin takut dan banyak beribadah kepada-Nya.

2) Tokoh-tokoh para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- tidak mampu melakukan seperti ibadah yang mampu dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-! Sekalipun demikian, mereka tetap berusaha untuk mengikuti beliau serta meneladani ibadah beliau.

3) Fikih salat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yaitu salat beliau seimbang; apabila beliau memanjangkan bacaan, beliau juga memanjangkan rukuk dan sujudnya.

Faedah Tambahan:

Salat yang akan mendatangkan buah pada kesalehan seorang hamba adalah salat yang sesuai dengan petunjuk Sunnah berupa memanjangkan salat, menyempurnakan rukuk dan sujud, serta melakukan doa, zikir, dan berbagai pujian supaya dia bisa merasakan manisnya munajat. Inilah salat yang bisa "mencegah dari perbuat keji dan mungkar." Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sungguh, selama engkau di dalam salat, maka engkau sedang mengetuk pintu Allah Maharaja. Siapa yang terus-menerus mengetuk pintu, dia pasti memasukinya."

17/1176- Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya, "Salat manakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Salat yang berdirinya lama." (HR. Muslim)

Yang dimaksud dengan "القُنُوتِ" (al-qunūt) ialah berdiri (kiam).

Pelajaran dari Hadis:

1) Berdiri lama bagi orang yang mampu adalah yang paling utama di dalam salat.

2) Yang paling utama dalam salat adalah agar salat tersebut seimbang; bila orang yang salat memanjangkan berdirinya, dia juga hendaknya memanjangkan rukun-rukun yang lain.

18/1177- Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Salat yang paling Allah cintai adalah salat Daud, dan puasa yang paling Allah cintai adalah puasa Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, lalu mengerjakan salat di sepertiganya, dan tidur lagi di seperenamnya. Beliau biasa berpuasa ‎sehari dan berbuka (tidak berpuasa) di hari berikutnya." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Memberi hak kepada setiap pemiliknya merupakan yang paling utama dalam ibadah seseorang, yaitu dia tidak melalaikan ibadah kepada Rabb-nya dan tidak juga melupakan hak dirinya dan keluarganya.

2) Manhaj para nabi dalam beribadah terkandung sikap pertengahan dan keberkahan, sehingga seorang muslim harus gigih untuk mengikuti petunjuk nabi yang sempurna.

19/1178- Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku telah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya pada malam hari itu ada satu waktu, tidaklah seorang muslim mendapatkannya dalam keadaan meminta kepada Allah kebaikan perkara dunia dan akhirat, melainkan Allah pasti memberikannya kepadanya. Dan itu ada pada setiap malam." (HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Hikmah tidak ditentukannya waktu tersebut dengan waktu tertentu adalah supaya hamba yang diberi taufik bersungguh-sungguh dalam mencarinya.

2) Luasnya rahmat Allah -Ta'ālā- kepada hamba-Nya manakala Dia memberikan mereka di setiap malam waktu-waktu untuk mengabulkan doa mereka.

20/1179- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila salah seorang kalian bangun di waktu malam, maka hendaklah ia mengawali salatnya dengan dua rakaat yang ringan." (HR. Muslim)

Peringatan:

Hadis ini tidak sahih dari ucapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Melainkan ia berasal dari perkataan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dan tidak sahih dinisbahkan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Namun, dua rakaat ringan ini telah sahih dari perbuatan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sebagaimana dalam hadis Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berikut:

21/1180- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bangun di waktu malam untuk mengerjakan salat, beliau memulai salatnya dengan dua rakaat ringan." (HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Hikmah dari membuka qiamulail dengan dua rakaat ringan adalah agar seorang hamba bersemangat di sisa salatnya.

2) Perhatian agama terhadap kondisi kejiwaan manusia manakala mensyariatkan semua yang akan membantu ketekunan dan keselamatannnya.

22/1181- Juga dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, "Apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak sempat melakukan salat malam karena sakit atau yang lainnya, maka beliau akan melakukan salat pada waktu siang sebanyak dua belas rakaat." (HR. Muslim)

23/1182- Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang tertidur dari bacaan wirid hariannya (dari Al-Qur`ān) di malam hari atau sebagiannya, lalu dia mengadanya di waktu antara subuh dan zuhur, maka akan ditulis untuknya seolah-olah ia mengerjakannya di malam hari." (HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

حِزْبِهِ (ḥizbihi): bagian tertentu yang dikhususkan untuk bacaan atau salat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Disyariatkannya mengada salat malam di siang hari dengan bilangan genap, bukan ganjil, karena bilangan ganjil digunakan untuk menutup salat malam.

2) Waktu mengada salat malam bagi orang yang luput mengerjakannnya ialah antara terbit dan naiknya matahari hingga mendekati waktu tergelincirnya matahari di waktu zuhur.

3) Besarnya rahmat Allah -Ta'ālā- kepada hamba-Nya, yaitu Allah membukakan bagi mereka pintu rahmat ketika malam dan siang serta tidak menghalangi orang yang memiliki uzur dari mendapatkan pahala.

24/1183- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun pada malam hari, lalu ia mengerjakan salat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, ia memercikkan air di wajahnya. Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada malam hari, lalu ia mengerjakan salat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan, ia memercikkan air di wajahnya." (HR. Abu Daud dengan sanad sahih)

25/1184- Abu Hurairah dan Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila seorang suami membangunkan istrinya pada malam hari, lalu mereka berdua mengerjakan salat -atau dia mengerjakan salat- dua rakaat berjamaah, maka keduanya akan ditulis dalam golongan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir." (HR. Abu Daud dengan sanad sahih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Rahmat Allah akan turun kepada suami istri yang saling mengingatkan ketaatan kepada Allah -Ta'ālā-, karena tidaklah salah seorang mereka bangun dari tidurnya -yang merupakan sesuatu yang disenangi jiwa- kecuali karena merindukan sesuatu yang lebih ia sukai, yaitu bermunajat kepada Allah -Ta'ālā-.

2) Disyariatkannya memberikan motivasi qiamulail karena akan menanamkan semangat beribadah dalam jiwa.

3) Rumah tangga yang hidup di bawah naungan ketaatan kepada Ar-Raḥmān adalah rumah tangga yang bahagia dan diberkahi. Maka, apakah kita telah mengetahui cara meraih kebahagiaan keluarga?

26/1185- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika salah seorang kalian telah mengantuk ketika salat, hendaklah dia tidur hingga kantuk itu hilang. Karena jika salah seorang di antara kalian mengerjakan salat dalam keadaan mengantuk, dia tidak sadar, mungkin dia hendak meminta ampunan, namun ternyata dia justru mencela dirinya sendiri." (Muttafaq 'Alaih)

27/1186- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian bangun untuk salat pada waktu malam, kemudian lisannya berat membaca Al-Qur`ān dan ia tidak sadar apa yang ia baca, maka hendaklah ia berbaring (tidur)." (HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

فَاستَعجَمَ (fa-sta'jama): berat baginya karena sangat ngantuk.

Pelajaran dari Hadis:

1) Memberikan hak pada setiap pemiliknya adalah metode Nabi dalam beribadah, sehingga apabila seorang hamba mengantuk hendaklah dia memberikan hak dirinya dengan tidur dan tidak memaksakan dirinya untuk beribadah.

2) Menampakkan kemudahan syariat Islam, yaitu syariat Islam memperhatikan hak badan, dan Rabb kita tidak membebani kita dengan sesuatu yang tidak kita sanggupi, karena Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- lebih sayang kepada hamba-Nya daripada kesayangan mereka terhadap diri mereka sendiri.