Terjemahan yang Berlaku English عربي

60- BAB KEDERMAWANAN, SUMBANGAN, DAN INFAK PADA BERBAGAI KEBAIKAN KARENA YAKIN KEPADA ALLAH -TA'ĀLĀ-

Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya." (QS. Saba`: 39) Allah -Ta'ālā- juga berfirman, "Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari wajah Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan)." (QS. Al-Baqarah: 272) Allah -Ta'ālā- juga berfirman, "Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 273)

Faedah Tambahan:

Al-Karam (kedermawanan) adalah kata komprehensif yang mencakup semua jenis kebaikan, dan itu terdiri dari berbagai macam, di antaranya:

kedermawanan harta, kedermawanan jiwa dengan tidak mengharap apa yang ada di tangan manusia, dan kedermawanan pemaafan terhadap perbuatan buruk orang.

Pelajaran dari Ayat:

1) Menganjurkan orang beriman agar berinfak untuk mencari rida Allah -Ta'ālā-.

2) Orang beriman yakin dengan apa yang ada di sisi Allah -Ta'ālā-, bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik daripada apa yang dia berikan.

1/544- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, "Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang: orang yang Allah ‎anugerahi harta lalu dia infakkan di jalan kebenaran ‎dan orang yang Allah karuniai hikmah (ilmu Al-Qur`ān ‎dan Sunnah) lalu dia memutuskan perkara/mengadili dengannya dan ‎mengajarkannya.‎" (Muttafaq 'Alaih) Maksudnya: seharusnya, tidak boleh iri pada seseorang kecuali karena ia memiliki salah satu dari dua perangai ini.

Kosa Kata Asing:

هَلَكَتِهِ في الحَقِّ: menginfakkannya pada berbagai kebaikan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk berlomba dalam amal kebaikan. Tidaklah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan kebaikan ini kecuali agar orang beriman berlomba di dalamnya.

2) Nikmat seluruhnya berasal dari Allah -Ta'ālā- dan wajib disyukuri, yaitu dengan menempatkannya di tempat yang diperintahkan oleh Sang Pemilik nikmat, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.

3) Infak bersifat umum mencakup infak harta dan infak ilmu.

Faedah Tambahan:

Dalam hal hikmah dan ilmu manusia terbagi menjadi empat kelompok:

Kelompok pertama: orang yang tidak diberikan ilmu sama sekali, dia adalah orang jahil.

Kelompok kedua: orang yang diberi ilmu oleh Allah, tetapi dia bakhil dengan ilmunya itu, bahkan terhadap dirinya sehingga dia tidak mengamalkannya. Dia adalah orang lalai; diberikan ilmu dan dan dihalangi dari pengamalan, tetapi dia lebih tinggi derajatnya dari yang pertama.

Kelompok ketiga: orang yang diberi ilmu oleh Allah lalu dia amalkan pada dirinya tanpa mengajarkannya, maka dia berada di dalam kebaikan yang terbatas.

Kelompok keempat: orang yang diberi ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkannya untuk dirinya dan mengajarkannya kepada yang lain agar semua orang mendapatkan manfaatnya. Dialah orang yang utama. Saudaraku, bersungguh-sungguhlah agar Anda masuk dalam kelompok ini.

2/545- Masih dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapakah di antara kalian yang harta untuk ahli warisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri?" Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah! Tidak ada seorang pun dari kami melainkan dia lebih mencintai hartanya sendiri." Beliau bersabda, "Sesungguhnya hartanya ialah yang telah dia pergunakan, dan harta untuk ahli warisnya ialah yang dia sisakan." (HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk menginfakkan harta pada hal-hal kebaikan untuk dia dapatkan manfaatnya di dunia dan akhirat.

2) Meluruskan pemahaman yang salah dalam kehidupan manusia merupakan tugas ulama dan penuntut ilmu.

3/546- 'Adiy bin Ḥātim -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Berlindunglah kalian dari api neraka meskipun hanya dengan (bersedekah) separuh kurma." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Pintu-pintu kebaikan memiliki banyak macam, dan seorang mukmin tidak akan menyia-nyiakan kebaikan walau hanya bersedekah dengan separuh kurma yang akan menyelamatkannya dari azab neraka.

2) Bimbingan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada umatnya tentang jalan-jalan keselamatan dari azab.

4/547- Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Tidaklah pernah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dimintai sesuatu, lalu beliau mengatakan: tidak." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan kemurahan hati Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan akhlak baik beliau; yaitu beliau tidak pernah menolak orang yang meminta, bahkan beliau memberi seperti pemberian orang yang tidak khawatir miskin.

2) Orang yang diberi taufik di antara hamba Allah adalah yang berusaha meneladani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam tuntunan beliau yang penuh berkah, di antaranya akhlak mulia ini.

5/548- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak ada satu hari pun ketika hamba memasuki pagi melainkan dua malaikat turun (ke bumi), lalu salah satu mereka berdoa, ‘Ya Allah! Berikanlah ganti (yang baik) kepada orang yang bersedekah.’ Sedangkan malaikat yang satu lagi berdoa, ‘Ya Allah! Timpakanlah kehancuran pada orang yang menahan hartanya (kikir).'" (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Doa agar diberikan ganti yang banyak kepada orang yang berinfak, dan doa kebinasaan terhadap orang yang kikir dan tidak berinfak.

2) Malaikat berdoa untuk orang-orang beriman yang saleh, dan ini adalah kabar gembira bagi orang beriman.

Faedah Tambahan:

Kebinasaan ada dua macam:

1- Kebinasaan yang bersifat fisik; yaitu harta tersebut musnah, seperti berncana datang merusaknya sehingga terbakar, dicuri, atau tenggelam.

2- Kebinasaan yang bersifat maknawi; yaitu keberkahannya dicabut sehingga pemiliknya sama sekali tidak mendapat faedahnya dalam kehidupannya.

6/549- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, Allah -Ta'ālā- berfirman (dalam hadis qudsi), “Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya engkau akan dinafkahi.” (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk berinfak di jalan Allah karena ia merupakan sebab kelapangan rezeki.

2) Pemberian Allah kepada hamba-Nya sesuai kadar pemberian hamba tersebut kepada orang-orang fakir dan yang membutuhkan.

7/550- Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Perangai Islam manakah yang paling baik?" Beliau bersabda, "Yaitu engkau memberi makan dan memberi salam kepada orang yang engkau kenal ataupun yang tidak engkau kenal." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Antusiasme para sahabat untuk mengetahui perangai-perangai yang mendatangkan manfaat di dunia dan akhirat serta melanjutkannya dengan pengamalan.

2) Anjuran untuk berbagi dan memberi makan.

Faedah Tambahan:

Keumuman dalam sabda beliau: "dan memberi salam..." dikhususkan untuk orang muslim. Sehingga tidak boleh memulai salam kepada selain muslim, berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Janganlah kalian memulai salam kepada orang yahudi dan nasrani..."

Faedah Tambahan:

Perbedaan antara dermawan dan boros; orang dermawan meletakkan pemberian pada tempatnya, sedangkan orang boros sering kali pemberiannya tidak tepat sasaran.

Orang yang dermawan berusaha menunaikan hak-hak yang wajib dan sunah terkait hartanya, sesuai perintah agama dan dorongan akhlak mulia seperti memberi nafkah, menjamu tamu, dan membalas hadiah. Adapun sisanya, maka ia menggunakannya untuk kebaikan lain secara sempurna, dengan hati penuh rida dan mengharap gantinya dari Allah di dunia dan akhirat.

Adapun orang yang boros (mubazir), dia mengeluarkan harta dengan mengikuti hawa nafsu dan syahwatnya, tanpa memperhatikan maslahat pribadi dan umum, sementara dia menelantarkan hak-hak yang wajib dan yang sunah.

8/551- Masih dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada empat puluh macam perangai (perbuatan). Yang paling atas adalah mendermakan seekor kambing (untuk diperah susunya). Tidaklah seseorang mengerjakan salah satu dari perangai-perangai tersebut karena mengharap pahalanya dan meyakini balasannya yang dijanjikan, melainkan Allah akan memasukkannya dengan amalannya itu ke dalam surga." (HR. Bukhari). Hadis ini telah dijelaskan dalam Bab Penjelasan tentang Banyaknya Jalan Kebaikan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Beragamnya pintu-pintu kebaikan, serta kemudahannya bagi orang-orang yang mau beramal; orang yang terhalangi sesungguhnya adalah yang dihalangi dari memasukinya dan mengamalkannya.

2) Infak yang dianjurkan oleh agama dan berpahala besar disyaratkan harus ikhlas kepada Allah -Ta'ālā-; "Siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar." (QS. An-Nisā`: 114)

9/552- Abu Umāmah Ṣudāy bin 'Ajlān -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Wahai anak Adam! Sungguh, jika engkau memberikan kelebihan (dari kebutuhanmu) maka itu adalah kebaikan bagi dirimu. Dan jika engkau menahannya maka itu adalah keburukan bagimu. Engkau tidak dicela bila menyimpan secukupnya, mulailah memberi nafkah pada orang yang engkau tanggung, dan tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima)." (HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Berbagi kelebihan harta dari yang dibutuhkan lebih baik bagi hamba karena di dalamnya terkandung unsur silaturahmi dengan saudara-saudaranya yang membutuhkan serta pembenaran terhadap janji Tuhan semesta alam.

2) Semua hamba dituntut untuk berbagi sesuai kemampuannya tanpa memaksakan diri: "Dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya." (QS. Aṭ-Ṭalāq: 7)

10/553- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, “Tidaklah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dimintai sesuatu atas (nama) Islam, melainkan beliau akan memberikannya. Sungguh pernah datang seorang pria kepada beliau, lalu beliau memberinya satu lembah kambing. Maka pria itu kembali kepada kaumnya, lalu berkata, ‘Wahai kaumku! Masuk islamlah kalian! karena sesungguhnya Muhammad memberikan pemberian seperti orang yang tidak takut kefakiran.’ Meskipun pertama kali orang itu masuk Islam tidak lain karena menginginkan dunia, namun tidak lama kemudian Islam menjadi hal yang paling dicintainya lebih dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Sedekah dan akhlak baik adalah media besar untuk merebut hati manusia.

2) Boleh memberikan sebagian zakat kepada orang-orang yang lemah imannya untuk menarik hati mereka. Kadang ada orang masuk Islam karena dunia, tetapi bila telah merasakan manisnya iman maka dia akan mencintainya dan akan berislam dengan baik.

11/554- Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah membagikan sebuah pembagian, lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah! Selain orang-orang itu masih banyak orang yang lebih berhak menerimanya." Beliau bersabda, "Sesungguhnya mereka ini memberikanku pilihan antara meminta kepadaku secara kasar, ataukah mereka akan menuduhku sebagai orang bakhil. Padahal aku bukan orang yang bakhil." (HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan kemuliaan akhlak, kesabaran, dan ketabahan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta berpalingnya beliau dari orang-orang jahil.

2) Bakhil bukan termasuk perangai para nabi dan orang-orang saleh, karena orang beriman adalah orang yang dermawan dan pemurah.

12/555- Jubair bin Muṭ’im -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa tatkala dia sedang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam perjalanan pulang dari Ḥunain, orang-orang badui berusaha menarik beliau sambil meminta hingga beliau terdesak ke pohon samurah, dan serban beliau tersangkut durinya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berdiri dan bersabda, “Kembalikan serbanku. Andai aku memiliki unta, sapi, dan kambing sebanyak pohon-pohon ini pastilah aku akan membagikannya kepada kalian, kemudian kalian tidak akan mendapatiku sebagai orang pelit, pendusta, maupun pengecut." (HR. Bukhari)

مَقْفَلَه (maqfalah): dalam perjalanan pulang. السَّمُرَةُ (as-samurah): nama pohon. الْعِضَاهُ (al-'aḍāh): pohon yang berduri.

Pelajaran dari Hadis:

1) Imam umat Islam bersih dari perangai tercela; seperti inilah seharusnya keadaan orang yang menjadi teladan umat, dia harus meneladani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Menjelaskan bagaimana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendidik umat lewat keteladanan, yaitu beliau mewujudkan ilmu dengan pengamalan.

3) Pengaruh tuntunan yang bagus dan akhlak yang baik terhadap hati manusia.

13/556- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta, Allah pasti akan mengangkat kemuliaan seseorang yang suka memaafkan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah -Ta'ālā- angkat derajatnya." (HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Sedekah tidak akan mengurangi harta, karena Allah akan memberkahinya dan mengganti harta yang disedekahkan tersebut.

2) Keadaan orang beriman yang yakin dengan janji Allah -Ta'ālā-, yaitu bahwa Allah akan memberinya ganti berupa kebaikan dan keberkahan.

14/557- Abu Kabsyah 'Amr bin Sa'ad Al-Anmāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa dia telah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada tiga hal yang aku bersumpah padanya. Aku akan sampaikan sebuah hadis kepada kalian, karena itu hafalkanlah! Harta seseorang tidak akan berkurang karena sedekah. Tidaklah seseorang dizalimi dengan sebuah kezaliman dan dia bersabar menghadapinya kecuali Allah akan angkat kemuliaannya. Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta, kecuali Allah akan buka kepadanya pintu kemiskinan -atau ungkapan semacam itu-. Dan aku akan sampaikan suatu hadis kepada kalian dan hafalkanlah dengan baik! Sesungguhnya dunia ini untuk empat macam manusia, yaitu:

Orang yang dikaruniai harta dan ilmu oleh Allah, lantas ia mempergunakannya untuk bertakwa kepada Tuhannya dan menyambung tali kekerabatan, dan ia juga mengetahui hak Allah di dalam hartanya tersebut. Orang ini ada pada derajat yang paling utama. Kemudian orang yang dikaruniai ilmu oleh Allah tetapi tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang sungguh-sungguh ia berkata, 'Andaikan aku mempunyai harta, niscaya aku akan beramal seperti amalnya si polan.' Maka dia akan diberi pahala dengan sebab niatnya. Pahala mereka berdua sama. Kemudian orang yang dikaruniai harta tetapi tidak dikaruniai ilmu, lalu ia menggunakan hartanya tanpa ilmu. Dia tidak mempergunakan hartanya untuk bertakwa kepada Tuhannya, tidak menggunakannya untuk menyambung tali kekerabatan, dan tidak mengetahui adanya hak Allah dalam hartanya. Orang seperti ini ada pada tempat yang paling rendah. Kemudian orang yang tidak dikaruniai harta dan tidak pula ilmu, kemudian dia berkata, 'Andaikan aku mempunyai harta, niscaya aku akan berbuat seperti apa yang diperbuat oleh si polan (orang ketiga).' Maka dia akan diganjar sesuai niatnya. Dosa mereka berdua sama." (HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadis hasan sahih")

Kosa Kata Asing:

نَفَرٌ (nafar): bilangan orang antara tiga sampai sepuluh.

Pelajaran dari Hadis:

1) Berita yang benar dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa sedekah tidak mengurangi harta, bahkan menambah dan mengembangkannya.

2) Ilmu adalah barometer semua urusan. Orang yang dikaruniai ilmu bermanfaat oleh Allah maka dia akan tahu bagaimana mengatur urusannya. Tetapi orang yang tidak diberikan ilmu maka dia tidak akan teratur dalam urusannya dan melampaui batas. Hal ini mengandung anjuran menuntut ilmu yang bermanfaat.

15/558- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwasanya keluarga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah menyembelih seekor kambing, lalu beliau bertanya, “Apa yang masih tersisa darinya?” (‘Aisyah) menjawab, “Tidak ada yang tersisa kecuali bagian pundaknya.” Beliau berkata, “Masih tersisa semuanya kecuali bagian pundaknya.” (HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadis sahih")

Maksudnya, mereka telah menyedekahkan semuanya kecuali bagian pundaknya. Maka beliau berkata: semuanya tersimpan untuk kita di akhirat, kecuali bagian pundaknya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan sifat kedermawanan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan juga Ahli Bait beliau -raḍiyallāhu 'anhum-.

2) Harta seseorang yang kekal adalah yang dia sedekahkan dan dia simpan pahalanya di sisi Allah -Ta'ālā-.

3) Cara Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang baik dalam meluruskan keyakinan dan analogi yang salah dalam kehidupan manusia.

16/559- Asmā` binti Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadaku, "Janganlah engkau menyimpan harta sehingga rezeki akan ditahan padamu."

Dalam riwayat yang lain: "Berinfaklah. Janganlah engkau menghitung-hitungnya sehingga Allah akan menghitung (rezeki) untukmu, dan janganlah engkau menahannya sehingga Allah menahan (rezeki) untukmu." (Muttafaq 'Alaih)

انْفَحِي (infaḥī), dengan "ḥā`", semakna dengan kata "أَنفِقِي" (anfiqī), dan "انْضحِي" (inḍaḥī).

Kosa Kata Asing:

لاَ تُوكِي (lā tūkī): jangan menahan dan mengikat yang yang engkau punya.

لا تُوعِي (lā tū'ī): jangan menahan kelebihan harta yang engkau punya dan berlaku pelit dengannya. Kedua kalimat ini memiliki makna yang berdekatan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Larangan menahan sedekah karena takut harta habis, karena yang seperti itu adalah bentuk suuzan kepada Allah -Ta'ālā-.

2) Balasan setimpal dengan jenis perbuatan, yaitu orang yang menahan hak Allah yang wajib ditunaikan akan dihukum Allah dengan menyempitkan rezekinya.

17/560- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa dia mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Perumpamaan orang kikir dan orang yang suka berinfak itu adalah seperti dua orang yang memakai baju besi yang menutupi dada hingga tulang selangkanya. Adapun orang yang suka berinfak, tidaklah dia berinfak melainkan baju besi itu akan melebar dan menutupi seluruh kulitnya hingga menutupi jarinya dan menghapus jejaknya. Sedangkan orang yang kikir, tidaklah dia ingin berinfak melainkan setiap ruasnya akan mencengkram tempatnya; dia berusaha melebarkannya, tetapi ia tidak bisa melebar." (Muttafaq 'Alaih)

الجُنَّةُ (al-junnah): baju perang. Maksudnya, bahwa orang yang dermawan setiap kali dia berinfak maka baju tersebut semakin lebar dan panjang hingga diseret di belakangnya dan menutupi kedua kaki dan jejak langkahnya.

Kosa Kata Asing:

ثُدِيِّهِمَا (ṡudiyyihimā), bentuk muṡannā dari kata "ثُدي" (ṡudyun) dengan mendamahkan "ṡā`", artinya: susu bagi laki-laki. Sedangkan "الثَدي" (aṡ-ṡadyu) dengan fatah, maka bermakna: susu bagi perempuan.

تَرَاقِيهِمَا (tarāqīhimā), bentuk jamak dari kata "ترقوة" (tarquwah), yaitu tulang yang terletak antara leher dan pundak.

سَبَغَتْ (sabagat): melebar dan menutupi.

بَنَانُهُ (banānuhu): jari-jarinya.

تَعْفُوَ أَثَرَهُ (ta'fū aṡarahu): menutup jejaknya sehingga tidak terlihat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Sedekah akan menutup aib dan kesalahan sebagaimana pakaian yang diseret di atas tanah menutupi jejak kaki pemiliknya ketika berjalan.

2) Memberi dan berinfak termasuk sebab terbesar adanya kelapangan dada dan kebahagiaan jiwa.

18/561- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang bersedekah semisal satu biji kurma dari penghasilan yang baik, dan memang Allah tidak akan menerima kecuali yang baik, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah mengurusnya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang kalian mengurus anak kudanya, hingga sedekah itu menjadi seperti gunung." (Muttafaq 'Alaih)

الفَلُوُّ (al-faluwwu), dengan memfatahkan "fā`", dan mendamahkan "lām", lalu mentasydid "wāw". Ada juga yang mengkasrahkan "fā`", dan mensukunkan "lām", lalu "wāw" tidak ditasydid (al-filwu), artinya: anak kuda.

Pelajaran dari Hadis:

1) Allah Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik, sehingga orang yang bersedekah harus mengupayakan agar sedekahnya berasal dari harta yang baik.

2) Menjelaskan janji Allah -Ta'ālā- yang akan melipatgandakan sedekah yang berasal dari penghasilan yang baik hingga menjadi seperti gunung. Ini adalah buah dari harta yang halal.

19/562- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ketika seorang laki-laki berjalan di padang pasir yang luas, dia mendengar suara dari arah awan, 'Siramlah kebun polan!' Awan itu bergerak pergi lalu menumpahkan airnya di tanah berbatu hitam, dan ternyata salah satu saluran air yang ada telah menampung semua air itu. Maka dia pun mengikuti arah air itu mengalir. Ternyata ada seseorang yang berada di kebunnya, dia sedang memindahkan air itu dengan cangkulnya. Laki-laki itu bertanya, 'Wahai hamba Allah! Siapa namamu?' Orang itu menjawab, 'Polan.' Persis nama yang dia dengar di awan. Orang itu balik bertanya, 'Wahai hamba Allah! Mengapa engkau menanyakan namaku?' Dia menjawab, 'Aku mendengar suara di awan yang mencurahkan air ini mengatakan: 'Siramlah kebun fulan,' persis seperti namamu. Jadi, apa yang engkau lakukan pada kebun ini?' Orang itu menjawab, 'Karena engkau telah bertanya, maka ketahuilah sesungguhnya aku memeriksa hasil kebun ini, lalu aku sedekahkan sepertiganya, aku dan keluargaku memakan sepertiganya, dan aku mengembalikan sepertiganya yang lain ke kebun ini.'" (HR. Muslim)

الحَرَّةُ (al-ḥarrah): tanah yang ditutupi bebatuan hitam. الشَّرجَةُ (asy-syarjah), dengan memfatahkan "syīn" dan mensukunkan "rā`", setelahnya "jīm", yaitu: saluran air.

Pelajaran dari Hadis:

1) Memberikan nafkah kepada keluarga dan orang-orang yang membutuhkan termasuk perbuatan yang dicintai dan diridai oleh Allah -Ta'ālā-.

2) Allah -Ta'ālā- mengistimewakan hamba-Nya yang beriman dengan rahmat yang khusus untuknya tanpa melibatkan orang lain.

3) Menetapkan karamah para wali di tengah-tengah umat ini dan juga umat-umat terdahulu yang telah disebutkan oleh Allah -Ta'ālā- dalam firman-Nya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa." (QS. Yūnus: 63)